“YUDISIUM FAPERTA PERIODE APRIL 2018”, 22 sarjana kehutanan dan juara I lomba skripsi FAPERTA

Fakultas Pertanian (FAPERTA) Universitas Bengkulu melaksanakan acara Yudisium Program S1 dan S2 pada hari Kamis 19 April 2018 di Gedung C Universitas Bengkulu mulai pukul 08.00 WIB. Acara dibuka oleh Dekan FAPERTA Ir. Fahrurrozi., M.Sc., Ph.D dan dilanjutkan dengan laporan dari masing-masing Ketua Program Studi dan Ketua Jurusan di bawah FAPERTA.

Sebanyak 17 mahasiswa Program S2 dan 162 mahasiswa Program S1 dianugerahkan gelar pada acara tersebut. Dari seluruh mahasiswa yang lulus, terdapat 12 mahasiswa Program S2 yang lulus dengan predikat sangat memuaskan dan 86 mahasiswa Program S1 yang lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Jumlah peserta yudisium Program S2 FAPERTA berdasarkan Program Studi :

  • Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan : 13 mahasiswa
  • Program Studi Agribisnis : 4 mahasiswa

Jumlah peserta yudisium Program S1 FAPERTA berdasarkan Program Studi

  • Program Studi Kehutanan : 22 mahasiswa
  • Program Studi Peternakan : 26 mahasiswa
  • Program Studi Ilmu Kelautan : 24 mahasiswa
  • Program Studi Agribisnis : 28 mahasiswa
  • Program Studi Teknologi Industri Pertanian : 28 mahasiswa
  • Program Studi Agroekoteknologi : 34 mahasiswa

Pada acara yudisium ini, diumumkan juga pemenang lomba skripsi yang dilaksakan oleh FAPERTA pada tanggal 16 April 2018.

Daftar nama pemenang lomba skripsi :

  • Juara 1 : Harni Suci Utami dari Program Studi Kehutanan dengan judul Pola Sebaran Kantong Semar (Nepenthes spp) di Kawasan Taman Hutan Raya Rajolelo Kabupaten Bengkulu Tengah
  • Juara 2 : Wiwik Ambarwati dari Program Studi Ilmu Kelautan dengan judul Identifikasi Molekuler Mikroalga dari Kabupaten Tambrauw Papua Barat
  • Juara 3 : Desi Liani dari Program Studi Teknologi Industri Pertanian dengan judul Penambahan Biji Kecipir terhadap Mutu Sensoris dan Kuantitas Protein Kerupuk Getuk Ubi Kayu
  • Resti Kontesa dari Program Studi Ilmu Kelautan dengan judul Aktivitas Antibakteri dari Ekstrak Kasar Speies Halimeda micronesica asal Pantai Panjang Kota Bengkulu
  • Irman Darmatama dari Program Studi Teknologi Industri Pertanian dengan judul Analisis Teknis dan Finansial Produksi Sirup Kalamansi Segar Asri Kampung Melayu Kota Bengkulu
  • Riski Meliya Ningsih dari Program Studi Agroekoteknologi dengan judul Uji Daya Gabung Lima Tetua Melon berdasarkan Variabel Pertumbuhan dan Hasil.

Rangkaian acara Yudisium berlajan dengan lancar sesuai dengan rencana. Acara berakhir pukul 11.00 WIB diakhiri dengan foto bersama. (PPR).

Sumber: http://faperta.unib.ac.id/2018/04/yudisium-faperta-periode-april-2018/

Praktikum Lapangan (Inventarisasi Hutan, Ekologi Hutan, Dendrologi dan Kuliah Lapangan), menyenangkan.

Oleh Merlian Zikri, Bengkulu, 16 April 2018.

 

Kanan: CA Taba Penanjung; Kiri: TWA Pantai Panjang, Foto: Zikri/Kehutanan UNIB.

Menyenangkan, tergambarkan melalui rautan wajah praktikan yang mengikuti kegiatan praktikum lapangan beberapa mata kuliah jurusan semester genap 2017/2018. Pukul 07.00 wib dimulainya kegiatan praktikum yang didampingi oleh dosen-dosen jurusan kehutanan, UNIB, dengan pembekalan materi terlebih dahulu.

 

Pengarahan materi (kanan: CA Taba Penanjung; kiri: TWA Pantai Panjang), Foto: Zikri/kehutanan Unib.

TWA Pantai Panjang dan CA Taba Penanjung menjadi lokasi dilaksanakannya praktikum lapangan yang di selenggarakan setiap tahun bekerja sama dengan BKSDA Bengkulu. Hutan Pantai dan Hutan Mangrove merupakan lokasi praktikum untuk pengamatan penyusun vegetasi, selain itu, diamati juga kondisi biotik dan abiotik yang terkandung di dalamnya. Adapun penyusun hutan pantai seperti Ipomoea pes-caprae, Hibiscus tiliaceaus, Casuarina equisetifolia, dst. Sedikit berbeda dengan penyusun hutan mangrove yang dipengaruhi oleh kondisi substrat, salinitas, nutrien yang berasal dari endapan organik hulu-hilir. Fungsi ekologi mangrove juga disampaikan sebagai area memijah (asuh, sarang, istrahat, dan mencari makan) bagi berbagai macam biota, area pertahanan pertama (tsunami, abrasi, gelombang laut), memperkuat dan menstabilkan sedimen pantai, dll yang disampaikan oleh dosen kehutanan. Penyusun hutan mangrove yang diamati seperti famili Avicinniaceae, famili Rhizophoraceae, dan famili sonneratiaceae.

  

Kanan/kiri: Pengamatan vegetasi hutan pantai dan mangrove, Foto: Zikri/kehutanan Unib.

CA Taba penanjung menjadi lokasi praktikum selanjutnya dengan kondisi pengamatan yang berbeda yaitu hutan dataran rendah (<400 mdpl). CA Taba Penanjung merupakan habitat asli Rafflesia yang menjadi ikon Provinsi bengkulu. Praktikan mengamati dengan membuat petak pengamatan kemudian mencatat semua hasil temuan vegetasi berupa pohon, tiang, pancang dan semai. Selain itu praktikan membuat preparat berupa herbarium spesies yang belum diketahui spesiesnya kemudian diidentifikasi pada laboratorium jurusan kehutanan, UNIB.

 

Identifikasi tumbuhan oleh mahasiswa (kanan/kiri), Foto: Zikri/kehutanan Unib.

Praktikum lapangan yang dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam menganalisis atribut ekosistem sesuai dengan tempat tumbuh tumbuhan.

Profesor Sudarsanam Gudivada., MS.c. Ph.D membawa Etnobotany di lingkungan kehutanan UNIB

Oleh Merlian Zikri, Bengkulu, 12 April 2018.

WCU (World Class University) menuju tahun 2025 menjadi salah satu visi statuta UNIB kedepan. Bekerjasama dengan berbagai universitas dunia dengan menghadirkan pakar dan ahli bidang akademik kian intens dilaksanakan. 06/04/2018 hadir profesor dari India memberikan kuliah umum kepada mahasiswa kehutanan dan selingkung Unib mengenai etnobotani.

Profesor menerangkan pentingnya etnobotani bagi masyarakat. Foto: Zikri/kehutanan UNIB

Selama presentasi dan diskusi berlangsung, antusiasme mahasiswa begitu tinggi terlihat dari jumlah mahasiswa yang melebihi kapasitas ruangan sehingga sebagian mahasiswa memperhatikan penjelasan profesor hingga luar ruangan rapat FAPERTA.

“Etnobotani merupakan suatu kajian ilmu pemanfaatan lingkungan (tumbuhan) oleh masyarakat komunitas atau etnik tertentu. Interaksi yang berlangsung selama jutaan tahun melahirkan suatu kearifan tradisional yang dirangkum dalam pengetahuan tradisional kemudian di dokumentasi ” papar profesor”

Pentingnya etnobotani sebagai kajian ilmiah sebagai medicine modern. foto: Zikri/kehutanan UNIB

Kuliah umum yang diselenggarakan selama dua jam ini memberikan kesan, manfaat dan pengetahuan yang baru bagi mahasiswa. Mahasiswa menanyakan banyak hal yang dipaparkan oleh profesor, salah satunya “apakah hubungan antara etnobotani dengan musik”. Instrument musik terlahir dari alat-alat tradisional kemudian dikembangkan dengan teknologi modern, artinya adanya peranan pengetahuan tradisional yang melekat di dalamnya, papar profesor. lebih lanjut, profesor menerangkan obat-obat yang digunakan sekarang berasal dari pengetahuan tradisional sehingga pentingnya etnobotani sebagai konservasi keanekaragaman tumbuhan.

Foto bersama antara profesor, mahasiswa dan dosen. foto: Zikri/kehutanan UNIB

Sudah Saatnya, Bengkulu Mendirikan Pusat Informasi Rafflesia

oleh Dedek Hendry [Bengkulu] di 9 April 2018

Pemerintah Provinsi Bengkulu dinilai sudah sepantasnya membangun situs atau website pusat informasi persebaran Rafflesia. Selain bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan pelestarian, juga sangat mendukung pengembangan pariwisata. Demikian satu poin penting yang diungkapkan pakar Rafflesia, Agus Susatya, di kantornya, Jurusan Kehutanan, Universitas Bengkulu, Jum’at (6/4/18).

“Saya sudah ungkapkan gagasan ini 17 tahun silam. Saya kira, saat ini sangat relevan dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Terlebih, Bengkulu memiliki ikon Bumi Rafflesia dengan program unggulan pariwisata, tagline-nya Wonderfull 2020,” kata penemu R. lawangensisR. Bengkuluensis, dan R. kemumu ini.

Bengkulu merupakan wilayah persebaran Rafflesia, hampir merata di semua kabupaten. Ada R. arnoldii, R. gadutensis, R. hasseltii, R. bengkuluensis, dan R. kemumu. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, tentunya telah berkontribusi signifikan dalam publikasi ditemukannya lokasi Rafflesia atau ketika mekar.

“Dulu, banyak lokasi Rafflesia yang tidak terpublikasi luas. Di wilayah Rejang Lebong misalnya, di sekitar Desa Suban Ayam, Tabarena, Beringin Tiga, termasuk Air Dingin, sejak lama ditemukan Rafflesia. Begitu juga daerah lain. Kini, informasinya mulai gencar,” kata Wakil Ketua Forum Komunikasi Riset dan Pengembangan Rafflesia dan Amorphophallus.    Inilah Rafflesia arnoldii yang mekar di wilayah Bukit Kaba, Rejang Lebong, Bengkulu, Kamis (5/4/2018). Foto: Ridzki R Sigit/Mongabay Indonesia

 Meski informasi mekarnya Rafflesia semakin mudah dan cepat, akan tetapi belum terkoordinasi baik. Berbeda bila bisa dikelola melalui pusat informasi, para pihak yang ingin melakukan penelitian, wisatawan, atau pegiat lingkungan akan lebih gampang mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

“Mudah-mudahan, gagasan membangun situs pusat informasi Rafflesia ini direspon positif Pemerintah Provinsi Bengkulu. Apalagi, saya kira, biaya untuk membuatnya tidak besar. Termasuk penguatan jaringan yang telah melakukan upaya pelestarian seperti di Kaur, Bengkulu Utara, Bengkulu Tengah dan masyarakat yang kebunnya menjadi lokasi mekarnya Rafflesia,” papar Agus.

Rafflesia arnoldii yang mekar di wilayah sekitar Bukit Kaba, Rejang Lebong, Bengkulu, ini sebelumnya tidak pernah terpantau keberadaannya. Foto: Ridzki R Sigit/Mongabay Indonesia

Viral di media sosial

Katuro, warga Desa Sindang Jaya, Rejang Lebong, yang kebunnya di Desa Air Dingin menjadi lokasi R. arnoldii tumbuh dan mekar mengatakan, sudah empat kali di kebunnya ditemukan bonggol Rafflesia dan mekar. Hanya saja, informasi ini tidak pernah disebarluaskan, baru kali ini saja.

“Adik saya yang menyebarluaskan informasi Rafflesia ini melalui Facebook. Beberapa hari kemudian, mulai ramai didatangi pengunjung,” kata Katuro di rumah salah satu warga yang menjadi lokasi parkir kendaraan penunjung, Kamis (5/4/2018).

Katuro dan keluarganya tidak ingin mengusik Rafflesia tersebut. Alasannya, Rafflesia merupakan bunga langka dan dilindungi. Dia juga tidak keberatan, bila lokasi ini dijadikan areal konservasi. “Kalau memang pemerintah mau menjadikannya areal pelestarian Rafflesia, tidak apa-apa. Lagi pula lokasi puspa ini berada di areal curam atau terjal,” terangnya

Rafflesia arnoldii merupakan Puspa Langka Nasional yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden RI No. 4 Tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional. Foto: Ridzki R Sigit/Mongabay Indonesia

Seorang penunjung, Eti Mastioh, siswi kelas XI SMAN 9 Rejang Lebong mengatakan, informasi tentang Rafflesia mekar di kebun Katuro diperolehnya dari WhatsApp. Berbekal keterangan itu, dia mengajak teman sekolahnya untuk melihat langsung. “Kalau saya sudah dua kali melihat Rafflesia mekar. Di desa kami ini cukup sering, tapi selama ini tidak viral di media sosial. Kalau teman-teman saya ini, baru pertama melihat.”

Eti yang berdomisili di Desa Air Dingin, senang desanya menjadi habitat Rafflesia. Karena, tidak semua desa bisa seberuntung ini. Eti mengaku belum memiliki pengetahuan cukup mengenai Rafflesia, kendati topik ini dibahas di buku pelajaran. “Saya belum bisa mendeskripsikan secara baik R. arnoldiisekaligus membedakannya dengan jenis lain,” ucapnya.

 Begini kondisi liana tetrastigma inang Rafflesia arnoldii. Foto: Ridzki R Sigit/Mongabay Indonesia

Penuh intrik

Dalam bukunya “Rafflesia, Pesona Bunga Terbesar di Dunia” Agus Susatya menuliskan, proses penamaan pertama kali untuk jenis Rafflesia melibatkan intrik, politik, dan ketamakan. Menurut Agus, orang asing yang untuk pertama melihat jenis Rafflesia bukanlah Stamford Raffles ataupun Joseph Arnold, melainkan Louis Auguste Deschamp, seorang dokter sekaligus penjelajah alam dari Perancis.

Deschamp melihat Rafflesia di Pulau Nusa Kambangan, Jawa Tengah, pada 1797 atau 20 tahun lebih awal ketimbang penemuan Joseph Arnold di Pulau Lebar, Bengkulu Selatan, pada 1818.

Setahun kemudian, 1798, Deschamp pulang ke Perancis dengan semua koleksinya. Saat mendekati selat Inggris, kapalnya ditangkap dan semua koleksinya dirampas oleh Inggris. Saat itu, setelah melihat rampasan koleksi spesimen, para ahli botani Inggris sadar bahwa Deschamp telah menemukan jenis yang sangat unik dan tidak pernah dilihat sebelumnya.

“Ada semacam kompetisi rahasia antara ahli botani tentang siapa yang akan menerbitkan jenis yang sangat menakjubkan tersebut. Mereka berpendapat, siapapun orangnya, jenis yang mencengangkan itu harus dideskripsikan atau dinamakan oleh orang Inggris, bukan Belanda apalagi Perancis,” tulis Agus.

Tampak bonggol atau calon bunga Rafflesia arnoldii yang berada di wilayah Sukaraja, Lampung. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

Sehingga, sambung Agus yang mengutip Nais (2000) dan Meijer (1997), Rafflesia yang saat itu sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Bengkuu memerintahkan William Jack untuk segera mendeskripsikan jenis yang ditemukan di Bengkulu Selatan. William Jack adalah seorang dokter dan penjelajah alam yang menggantikan Joseph Arnold.

Dalam artikelnya, William menamakan jenis tersebut sebagai R. titan, dan dikirimkan ke London pada April 1820. Malangnya, tulisan William secara misterius tidak langsung diterbitkan. Sampai kemudian Robert Brown membacakan penemuan yang menggemparkan ini pada 30 Juni 2018. Robert Brown menamakan jenis baru sebagai Rafflesia arnoldii R. Br.

Bonggol atau calon bunga Rafflesia arnoldii ini terpantau di wilayah Sukaraja, Lampung. Rafflesia arnoldii merupakan puspa kebanggaan Indonesia. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia

Artikel William akhirnya diterbitkan pada Agustus 1820. Meski pertama kali mendeskripsikan, namun karena terlambat dipublikasikan, R. titan tidak dipakai sebagai nama jenis baru tetapi dianggap sinonimnya R. arnoldii.

“Kejadian ini merupakan ironi, karena William Jack lah yang mengirimkan beberapa spesimen dari Bengkulu Selatan, yang boleh jadi digunakan oleh Robert Brown untuk mendeskripsikan jenis baru tersebut. Empat tahun setelah artikel Robert Brown rilis, bunga yang dilihat Deschamp di Nusakambangan dinamanakan R. patma oleh CL. Blume pada 1825,” tulis Agus.

 

sumber: http://www.mongabay.co.id/2018/04/09/sudah-saatnya-bengkulu-mendirikan-pusat-informasi-rafflesia/

KLHK Lengkapi Koleksi Arboretum Dengan Bunga Kibut

15 Maret 2018; Gedung Manggala Wanabhakti, Jakarta

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kamis, 15 Maret 2018. Sebagai refleksi komitmen upaya melestarikan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa Indonesia, Menteri LHK, Siti Nurbaya, melakukan penanaman Bunga Kibut (Amorphophallus titanum) di Arboretum Ir. Lukito Daryadi, MSc. Gedung Manggala Wanabhakti, Jakarta (15/03/2018). Disampaikan Siti Nurbaya, penananam ini menjadi lebih penting lagi, mengingat tantangan cukup berat saat ini, dengan masih menguatnya tekanan dan ancaman yang menyebabkan terjadinya degradasi.

“Bunga Kibut dan berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar lainnya, merupakan Sumber Daya Genetik Indonesia yang sangat penting, karena mempunyai nilai potensial untuk dikembangkan pemanfaatannya di masa mendatang. Oleh sebab itu sumber daya genetik tersebut harus kita jaga keaslian dan kemurniannya, sebagai salah satu modal dasar pembangunan nasional”, tutur Siti Nurbaya.

Dengan demikian, Siti Nurbaya mengharapkan agar upaya konservasi tumbuhan dan satwa baik secara in situ maupun ek situ, harus menjadi komitmen bersama seluruh pihak, sebagaimana KLHK yang telah membangun Arboretum Ir. Lukito Daryadi, MSc, sebagai salah satu upaya konservasi eksitu jenis-jenis tumbuhan dari berbagai wilayah.

Sebagai upaya perlindungan terhadap sumber daya genetik spesies liar di Indonesia, serta tindak lanjut diratifikasinya Protokol Nagoya berdasarkan UU No. 11 Tahun 2013, KLHK telah menetapkan Peraturan Menteri LHK No. P.02/MenLHK/Sekjen/Kum.1/1/2018 Tentang Akses Pada Sumber Daya Genetik Spesies Liar dan Pembagian Keuntungan Atas Pemanfaatannya.

“Dengan ditetapkannya peraturan tersebut, diharapkan dapat mewujudkan tujuan konservasi sumber daya genetik, yaitu menjamin kedaulatan negara atas kepemilikan Sumber Daya Genetik (SDG), menjamin pembagian keuntungan antara pihak penyedia dengan pemanfaat, melindungi SDG dan Pengetahuan Tradisional (PT) yang terkait dengan SDG, menjamin pemanfaatan yang berkelanjutan, dan mencegah biopiracy (pembajakan biologis)”, jelas Siti Nurbaya.

Dalam kesempatan ini, Menteri Siti juga mengharapkan agar terwujud kerjasama antara KLHK dan LIPI dalam membangun sistem dan format profil atau monografi taman nasional yang memuat informasi potensi tumbuhan dan satwa yang terinventarisasi dengan baik.

Dukungan terhadap upaya pelestarian tumbuhan dan satwa liar juga disampaikan oleh Plt. Gubernur Bengkulu, H. Rohidin Mersyah, yang juga turut melakukan penanaman ini. “Semoga penanaman ini dapat menjadi sejarah bahwa kami Bengkulu ikut berkontribusi di Arboretum, semoga tanaman ini dapat tumbuh, berkembang, dan menghasilkan bunga yang cantik”, Rohidin menuturkan.

Hal serupa juga disampaikan oleh Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayat LIPI, Enny Sudarmonowati, mewakili Kepala LIPI. “LIPI sangat mendukung hadirnya Arboretum, sebagai ajang melestarikan tumbuhan secara ek situ dan penyebarluasan informasi kepada publik melalui peragaan”, ujarnya.

Enny juga menyampaikan, dari 220 jenis Bunga Amorphophallus di dunia, 63 jenis terdapat di Asia tenggara, dan 26 diantaranya berada di Indonesia. Saat ini pihak LIPI telah berhasil membiakkan melalui biji dan kultur jaringan, dan menyebarkan hasil pembiakannya ke seluruh kebun raya di Indonesia untuk mengetahui lokasi yang cocok sebagai habitatnya, jelasnya.

Selain itu, LIPI juga kerap melakukan kegiatan diplomasi ilmiah dalam rangka memperjuangkan potensi keanekaragaman hayati sebagai kedaulatan negara, Enny menambahkan.

Sebanyak enam umbi Bunga kibut dan satu batang Amorphophallus hasil kultur jaringan ditanam di Arboretum. Turut hadir melakukan penanaman, Sekretaris Jenderal KLHK, Bambang Hendroyono, dan pakar Bunga Kibut dari Universitas Bengkulu, Dr. Agus Susatya.

Selain penanaman Bunga Kibut, sebagai rangkaian kegiatan peringatan Hari Bakti Rimbawan ke-35 di tahun ini, Siti Nurbaya juga melepasliarkan 135 ekor burung tidak dilindungi, yang terdiri dari 45 ekor jenis Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster), 20 ekor jenis Jalak Kerbau (Acridotheres javanicus), 10 ekor jenis Pleci (Zosterops), 10 ekor jenis Merbah Cecuruk (Pycnonotus goiavier), 25 ekor jenis Tekukur (Streptopelia chinensis), 5 ekor jenis Perkutut (Geopelia striata), dan 20 ekor jenis Jalak Kapas (Sturnus sturninus).

Sejak tahun 1999 Pemerintah telah menetapkan 294 jenis dilindungi, yang terdiri dari 236 satwa dan 58 tumbuhan. Penetapan jenis dilindungi tersebut didasarkan atas kriteria kondisi populasi kecil, penyebaran terbatas dan adanya penurunan populasi di alam. Salah satu yang termasuk jenis dilindungi adalah Bunga Kibut (Amorphophallus titanum). Sedangkan untuk jenis burung, saat ini tercatat 93 jenis termasuk dilindungi, dan berdasarkan hasil penilaian terakhir menunjukkan bahwa 1.492 jenis burung perlu segera dilindungi.

Bunga kibut (Amorphophallus titanum) dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, dan termasuk kategori Vulnerable berdasarkan IUCN Red List, serta termasuk Appendix 1 CITES, yaitu jenis dilarang diperdagangkan.

Melengkapi kegiatan penanaman ini, dilakukan pemasangan barcode pada pohon-pohon koleksi di Arboretum, yang merupakan salah satu inovasi Pusat Peneltian dan Pengembangan Hutan, Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK. Barcode atau Kartu Identitas Pohon (KIP) ini merupakan informasi digital terkait jenis pohon koleksi, seperti taksonomi, morfologi, bioekologi, dan informasi penting lainnya, yang dapat diakses oleh pengunjung dengan HP android. Pemasangan barcode ini akan memberikan kemudahan bagi pengunjung Arboretum, sebagai penyadartahuan.(*)

 

Penanggung jawab berita:

Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,

Sumber: http://ppid.menlhk.go.id/berita_foto/browse/1073